Sektor Pertanian

    Sektor Pertanian
    Bab 1
    Pendahuluan

Sektor pertanian merupakan salah satu sektor yang mempunyai peran cukup penting dalam menunjang peningkatan perekonomian dewasa ini. Salah satu sub-sektor pertanian yang diharapkan kontribusinya dalam perekonomian Indonesia adalah sub-sektor tanaman hortikultura, termasuk di dalamnya adalah komoditi bunga potong. Pengembangan usaha florikultura, khususnya bunga potong sampai saat ini menunjukkan adanya perubahan yang nyata, baik luas areal produksi yang di usahakan, jenis produksi yang di budidayakan, teknologi yang digunakan maupun volume penjualan yang dihasilkan. Industri bunga potong atau biasa yang disebut dengan istilah florikultura ini menjadi salah satu industri yang sedang berkembang di Indonesia.
Dilihat secara nasional maupun global, florikultura merupakan sektor bisnis yang punya potensi besar dan sangat menjanjikan. Di tingkat nasional, industri pertanian bunga ini setidaknya sudah terbukti mampu ikut menggerakkan sektor riil dan menghidupi banyak orang. Tanaman hortikultura, khususnya bunga potong (cut flower) merupakan komoditi yang sangat khas, dimana para pengusaha dituntut untuk lebih memberikan perhatian khusus dalam pengusahaannya yang didasarkan atas keterampilan seni, keterampilan dalam hal penguasaan teknologi budidaya dan kemampuan dalam memperdagangkan hasil produksi. Pengusaha bunga potong juga di tuntut dapat untuk memperdagangkan produksinya dalam keadaan segar dan menampilkan bentuk dan warna produksinya yang secara artistik mampu menarik calon konsumen.

    Bab 2
    Pembahasan


Peranan sektor pertanian :kerangka analisis

Mengikuti analisis klasik dari Kuznets (1964), pertanian di LDCs dapat dilihat sebagai suatu sektor ekonomi yang sangat potensial dalam empat (4) bentuk kontribusinya terhadap pertumbuhan dan pembangunan ekonomi nasional, yaitu sebagai berikut.

(1) Ekspansi dari sektor-sektor ekonomi lainnya sangat tergantung pada pertumbuhan output di sektor pertanian, baik dari sisi permintaan sebagai sumber pemasokan makanan yang kontinyu mengikuti pertumbuhan penduduk, maupun dari sisi penawaran sebagai sumber bahan baku bagi keperluan produksi di sektor-sektor lain seperti industri manufaktur (misalnya industri makanan dan minuman) dan perdagangan. Kuznets menyebutnya kontribusi pasar.

(2) Di negara-negara agraris seperti indonesia, pertanian berperan sebagai sumber penting bagi pertumbuhan permintaan domestik bagi produk-produk dari sektor-sektor ekonomi lainnya. Kuznets menyebutnya kontribusi pasar.

(3) Sebagai suatu sumber modal untuk investasi di sektor-sektor ekonomi lainnya. Selain itu, menurut teori penawaran tenaga kerja (L) tak terbatas dari Arthur Lewis dan telah terbukti dalam banyak kasus, bahwa dalam proses pembangunan ekonomi terjadi transfer surplus L dari pertanian (pedesaan) ke industri dan sektor-sektor perkotann lainnya. Kuznets menyebutnya kontribusi faktor-faktor produksi.

(4) Sebagai sumber penting bagi surplus neraca perdagangan (sumber devisa), baik lewat ekspor hasil-hasil pertanian maupun dengan peningkatan produksi pertanian dalam negeri menggantikan impor (subsitusi impor). Kuznets menyebutnya kontribusi devisa.

1. Kontribusi Produk

Konstribusi pertanian terhadap PDB dapat dilihat dari relasi antara pertumbuhan dari kontribusi tersebut dengan pangsa PDB awal dari pertanian dan laju pertumbuhan relatif dari produk-produk neto pertanian dan non pertanian. Jika Pp = produk neto pertanian, Pnp = produk neto non pertanian, dan Pn = total produk nasional atau PDB.
Laju penurunan peran sektor pertanian secara relatif di dalam ekonomi cenderung berasosiasi dengan kombinasi dari tiga hal berikut. Pangsa PDB awal dari sektor-sektor non pertanian yang relatif lebih tinggi daripada pangsa PDB awal dari pertanian, laju pertumbuhan output pertumbuhan yang relatif rendah, dan laju pertumbuhan output dari sektor-sektor non pertanian yang relatif tinggi (yang membuat suatu perbedaan positif yang besar antara pangsa PDB dari nonpertanian dengan pangsa PDB dari pertanian.
Di dalam sistem ekonomi terbuka, besarnya kontribusi produk terhadap PDB dari sektor pertanian baik lewat pasar maupun lewat keterkaitan produksi dengan sektor-sektor non pertanian, misalnya industri manufaktur, juga sangat dipengaruhi oleh kesiapan sektor itu sendiri dalam menghadapi persaingan dari luar. Dari sisi pasar, kasus Indonesia menunjukkan bahwa pasar domestik didominasi oleh berbagai produk pertanian dari luar negeri, mulai dari beras, buah-buahan, sayuran, hingga daging. Dari sisi keterkaitan produksi, kasus Indonesia menunjukkan bahwa banyak industri seperti industri minyak kelapa sawit (CPO) mendapatkan bahan baku di dalam negeri karena komoditi-komoditi tersebut di ekspor dengan harga jual di pasar luar negeri jauh lebih mahal daripada di jual ke industri-industri tersebut.

2. Kontribusi Produk

Negara agraris dengan proporsi populasi pertanian (petani dan keluarganya) yang besar seperti Indonesia merupakan sumber sangat penting bagi pertumbuhan pasar domestik produk-produk dari sektor nonpertanian, khususnya industri manufaktur. Pengeluaran petani untuk produk-produk industri, baik barang-barang konsumer (makanan,pakaian,rumah atau bahan-bahan bangunan, transportasi, mebel dan peralatan rumah tangga lainnya), maupun barang-barang perantara untuk kegiatan produksi (pupuk, pestisida, alat-alat pertanian).
Dua faktor penting yang dapat sebagai prasyarat peranan sektor pertanian lewat kontribusi pasarnya terhadap diversifikasi dan pertumbuhan output sektor-sektor non pertanian. Pertama, dampak dari ketrebukaan ekonomi dimana pasar domestik tidak hanya diisi oleh barang-barang buatan dalam negeri, tetapi juga barang-barang impor. Kedua, jenis teknologi yang digunakan di sektor pertanian yang menentukan tinggi rendahnya tingkat mekanisasi atau modernisasi di sektor tersebut.

3. Kontribusi Faktor-Faktor Produksi

Ada dua faktor produksi yang dapaat di alihkan dari pertanian ke sektor-sektor nonpertanian, tanpa harus mengurangi volume produksi(produktivitas) di sektor pertama. Pertama, L: di dalam teori Arthur Lewis dikatakan bahwa pada saat pertanian mengalami surplus L (dimana MP dari penambahan satu L mendekati atau sama dengan nol) yang menyebabkan tingkat produktivitas dan pendapatan riil per L di sektor tersebut rendah, akan terjadi transfer L dari pertanian ke industri. Kedua, modal: surplus pasar (MS) di sektor pertanian bisa menjadi salah satu sumber I di sektor-sektor lain. MS adalah surplus produk (Pp) dikali harga jual (Pp).
MS = Pp x Pp
Selain faktor-faktor di atas, untuk mendapatka MS, kinerja sektor pertanian itu sendiri harus baik, dalam arti bisa menghasilkan surplus, dan terakhir ini sangat ditentukan oleh kekuatan sisi suplainya (teknologi, infrastruktur dan SDM), serta dari sisi permintaan (pasar) oleh nilai tukar antara produk pertanian dengan produk nonpertanian, baik di pasar dalam negeri maupun luar negeri.

4. Kontribusi Devisa

kontribusi sektor pertanian terhadap peningkatan devisa adalah lewat peningkatan ekspor (x) dan/atau pengurangan tingkat ketergantungan negara tersebut dengan impor (M) atas komoditi-komoditi pertanian. Tentu, kontribusi sektor itu terhadap X juga bisa bersifat tidak langsung, misalnya lewat peningkatan X atau pengurangan M produk-produk berbasis pertanian seperti makanan dan minuman, tekstil dan produk-produknya, barang-barang dari kulit, ban mobil, obat-obatan, dan lain-lain.
Akan tetapi, peran sektor pertanian dalam peningkatan devisa bisa kontradiksi dengan perannya dalam bentuk kontribusi produk. Seperti telah dibahas sebelumnya, kontribusi produk dari sektor pertanian terhadap pasar dan industri domestik bisa tidak besar karena sebagaian besar produk pertanian di ekspor dan/atau sebagaian besar kebutuhan pasar dan industri domestik di suplai oleh produk-produk impor. Dalam kata lain, usaha peningkatan X pertanian bisa berakibat negatif terhadap pasokan pasar dalam negeri, atau sebaliknya, usaha memenuhi kebutuhan pasar dalam negeri bisa menjadi suatu faktor penghambat bagi pertumbuhan X pertanian.
Untuk menghindari trade-off seperti ini, maka ada dua hal yang perlu dilakukan di sektor pertanian, yakni menambah kapasitas produksi di satu sisi, dan meningkatkan daya saing produk-produknya di sisi lain. Namun, bagi banyak LDCs termasuk Indonesia, melaksanakan duapekerjaan ini tidak mudah, terutama karena keterbatasan teknologi, SDM, dan K.

Kinerja dan Peran Sektor Pertanian di Indonesia

1. Pertumbuhan output sejak tahun 1970-an

Mungkin sudah merupakan suatu evolusi alamiah seiring dengan prosesindustrialization, dimana pangsa output agregat (PDB) dari pertanian relatif menurun sedangkan dari industri manufaktur dan sektor-sektor sekunder lainnya dan sektor tersier meningkat. Perubahan struktur ekonomi seperti ini juga terjadi di Indonesia. Hal ini bisa terjadi karena secara rata-rata, elastisitas pendapatan dari permintaan terhadap komoditas pertanian lebih kecil daripada elastisitas pendapatan dari permintaan terhadap produk-produk dari sektor-sektor lain seperti barang-barang industri. Jadi, dengan peningkatan pendapatan, laju pertumbuhan permintaan terhadap komoditas pertanian lebih kecil daripada terhadap barang-barang industri.

2. Pertumbuhan dan Diversivikasi Ekspor

Komoditas pertanian Indonesia yang di ekspor cukup bervariasi mulai dari getah karet, kopi, udang, rempah-rempah, mutiara, hingga berbagai macam sayur dan buah. Selama 1993-2001, nilai X total dari komoditas-komoditas ini rata-rata pertahun hampir mencapai 3 miliar dolar AS. Di antara komoditi-komoditi tersebut, yang paling besar nilai ekspornya adalah udang denagn rata-rata sedikit di atas 1 miliar dolar AS selama periode yang sama. Udang memang merupakan komoditas perikanan yang terpenting dalam X hasil perikanan Indonesia. Selain itu Indoneisa juga mengekspor hasil perikanan bukan bahan makanan seperti rumput laut, mutiara, dan ikan hias. Peran ini bisa dilihat kontribusinya terhadap pembentukan PDB dan X total. Semakin tinggi tingkat pembangunan ekonomi (yang terefleksi dengan semakin tingginya pendapatan perkapita), semakin penting peran tidak langsung dari sektor pertanian, yakni sebagai pemasok bahan baku bagi sektor industri manufaktur dan sektor-sektor ekonomi lainnya.

3. Kontribusi terhadap kesempatan kerja

Sudah diduga bahwa di suatu negara agraris besar seperti Indonesia, dimana ekonomi dalam negerinya masih didominasi oleh ekonomi pedesaan, sebagaian besar dari jumlah angkatan/tenaga kerja (L) bekertja di pertanian. Kalau dilihat pola kesempatan kerja di pertanian dan industri manufaktur selama periode tersebut, pangsa kesempatan kerja dari sektor pertama menunjukkan suatu tren pertumbuhan yang menurun, sedangkan di sektor kedua meningkat. Perubahan struktur kesempatan kerja ini sesuai dengan apa yang diprediksi oleh teori mengenai perubahan struktur ekonomi jangka panjang.

4. Ketahanan pangan

Di Indonesia, ketahanan pangan merupakan salah satu topik yang sangat penting, bukan saja dilihat dari nilai-nilai ekonomi dan sosial, tetapi masalah ini mengandung konsekuensi politik yang sangat besar. Dapat dibayangkan apa yang akan terjadi dengan kelangsungan suatu kabinet pemerintah atau stabilitas politik di dalam negeri apabila Indonesia terancam kekurangan pangan atau kelaparan. Bahkan di banyak negara, ketahanan pangan sering digunakan sebagai alat politik dari seorang presiden untuk mendapat dukungan rakyatnya.
Konsep ketahanan pangan yang di anut Indonesia dapat dilihat dari Undang- Undang (UU) No.7 tahun 1996 tentang pangan, Pasal 1 Ayat 17 yang menyebutkan bahwa “ketahanan pangan adalah kondisi terpenuhinya pangan rumah tangga (RT) yang tercemin dari tersedianya pangan yang cukup, baik jumlah maupun mutunya, aman, merata, dan terjangkau”. UU ini sejalan dengan definisi ketahan pangan menurut Organisasi Pangan dan Pertanian PBB (FAO) dan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) tahun 1992, yakni akses setiap RT atau individu untuk dapat memperoleh pangan pada setiap waktu untuk keperluan hidup sehat. Implikasi kebijakan dari konsep ini adalah bahwa pemerintah, di satu pihak, berkewajiban menjamin kecukupan pangan dalam arti jumlah, dengan mutu yang baik serta stabilitas harga dan pihak lain, peningkatan pendapatan masyarakat, khususnya dari golongan berpendapatan rendah.


a. Kebutuhan Pangan Nasional

Banyak orang memperkirakan bahwa dengan laju pertumbuhan penduduk di dunia yang tetap tinggi setiap tahun, sementara lahan yang tersedia untuk kegiatan-kegiatan pertanian semakin sempit, maka pada suatu saat dunia akan mengalami krisis pangan (kekurangan stok), seperti juga diprediksi oleh teori Malthus. Namun, keterbatasan stok pangan bisa di akibatkan oleh dua hal: karena volume produksi rendah (yang disebabkan oleh faktor cuaca atau lainnya), sementara permintaan besar karena jumlah penduduk dunia bertambah terus atau akibat distribusi yang tidak merata keseluruh dunia: banyak daerah seperti Afrika mengalami krisis pangan, sementara di eropa Barat, Amerika Utara, dan sebagaian Asia mengalami kelebihan pangan.
Walaupun demikian, lebih besarnya tingkat pertumbuhan volume produksi pangan dunia dibandingkan laju pertumbuhan penduduk dunia bukan berarti tidak ada orang yang akan kekurangan pangan. Bahkan sebaliknya, menurut perkiraan FAO jumlah penduduk dunia yang kekurangan pangan akan meningkat dan pada tahun 2015 diperkirakan sebanyak 580 juta jiwa. Masih akan banyak penduduk dunia yang mengalami kekurangan pangan, sehingga memberi kesan bahwa masalah pangan dunia bukan masalah keterbatasan produksi (seperti dalam pemahaman Malthus). Tetapi masalah distribusi.
Sumodiningrat (2000) juga membuat suatu prediksi mengenai kebutuhan beras nasional dengan memakai data dari lembaga demografi Universitas Indonesia (LDUI). Prediksi ini di dasarkan pada beberapa asumsi: (1) setiap penduduk mengkonsumsi 144 kilogram pertahun; (2) seluruh penduduk mengkonsumsi beras, dan (3) luas wilayah dan jumlah penduduk di Indonesia relatif tidak berubah (artinya lepasnya provinsi kecil seperti timor timur tidak banyak berpengaruh dalam hitungannya).

Produksi Dalam Negeri dan Ketergantungan Pada Impor
Bukan hanya di alami oleh Indonesia, tetapi memang secara umum ketergantungan LDCs terhadap M pangan makin besar jika di bandingkan 10 atau 20 tahun lalu. Menurut data dari FAO, M pangan dari LDCs tahun 1995 sekitar 170 juta ton, dan di perkirakan akan meningkat menjadi 270 juta ton pada tahun 2030. Sebaliknya, X produk-produk pangan dari DCs akan semakin besar, yang oleh FAO diperkirakan akan naik dari 142 juta ton tahun 1995 menjadi 280 juta ton tahun 2030.
Dalam hal beras, menurut pengakuan pemerintah, untuk mencukupi kebutuhan pangan bagi penduduk Indonesia yang jumlahnya lebih dari 200 juta jiwa, setiap tahunnya Indonesia harus M beras lebih dari 2 juta ton. Argumen yang sering digunakan pemerintah untuk membenarkan kebijakan M-nya adalah bahwa M beras merupakan suatu kewajiban pemerintah yang tidak bisa dihindari, karena ini bukan semata-mata hanya menyangkut pemberian makanan bagi penduduk tetapi juga menyangkut stabilitas nasional (ekonomi, politik dan sosial).
Walaupun masalah M beras ramai di bicarakan baru sejak terjadinya krisis ekonomi, namun sebenarnya ketergantungan Indonesia terhadap M beras sudah mulai kelihatan jauh sebelum itu. Masalahnya sekarang bukan mempersoalkan apakah membiarkan M beras terus berlangsung merupakan suatu kebijakan yang salah atau tidak, tetapi, pertanyaannya adalah apakah produksi beras dalam negeri memang lebih kecil daripada kebutuhan beras di dalam negeri sehingga M beras tinggi selama ini, atau ada penyebab lainnya, misalnya karena adanya perbedaan arga antara beras domestik dengan beras M? Untuk menjawab pertanyaan ini perlu diketahui besarnya produksi dan konsumsi beras di dalam negeri rata-rata per-tahun selama ini. Namun pertanyaannya sekarang: apakah volume produksi bebas pertahun tersebut mencukupi kebutuhan konsumsi beras nasional? Apabila dilihat dari sisi banyaknya beras yang dikonsumsi di dalam negeri selama periode menjelang akhir 1980-an hingga krisis ekonomi (1998), pada tahun-tahun tertentu tingkat produksi beras berada di bawah garis swasembada, yang artinya produksi beras tidak mencukupi kebutuhan konsumsi dalam negeri, sehingga M beras meningkat. Selanjutnya, posisi persediaan beras ( total dari produksi dalam negeri, M, X, dan bantuan luar negeri).

    Faktor – faktor determinan

Kemampuan Indonesia meningkatkan produksi pertanian untuk swasembada dalam penyediaan pangan sangat ditentukan oleh banyak faktor, eksternal maupun internal. Satu – satunya faktor eksternal yang tidak bisa di pengaruhi oleh manusia adalah iklim; walaupun dengan kemajuan teknologi saat ini pengaruh negatif dari cuaca buruk terhadap produksi pertanian bisa diminimalisir. Dalam penelitian empiris, faktor iklim biasanya dilihat dalam bentuk banyaknya curah hujan (milimeter). Curah hujan mempengaruhi pola produksi, pola panen dan proses pertumbuhan tanaman. Sedangkan faktor-faktor internal, dalam arti bisa dipengaruhi oleh manusia, di antaranya yang penting adalah luas lahan, bibit, berbagai macam pupuk (seperti urea, TSP, dan KCL), pestisida, ketersediaan dan kualitas infrastruktur termasuk irigasi, jumlah dan kualitas L (SDM), K dan T.
Faktor – faktor internal ini memiliki tingkat krusial yang sama, dalam arti keterkaitan antar faktor sifatnya komplementer; terkecuali hingga tingkat tertentu antara faktor manusia (L) dan faktor T. Hingga saat ini sudah cukup banyak studi yang telah dilakukan mengenai pengurangan lahan pertanian di indonesia. Di antaranya adalah dari Sudaryanto (2001) yang menunjukkan bahwa lebih dari 55% lahan sawah yang mengalami pengalihan di Jawa beralih fungsi menjadi pemukiman (termasuk real estate), kawasan industri dan prasarana sosial ekonomi lainnya. Kalau dilihat dari perbandingan antara hasil survei pertanian (SP) 1983 dengan hasil SP 1993, dalam periode 10 tahun tersebut, total konversi lahan pertanian mencapai 1,28 juta ha. Survei pertanian berikutnya dilakukan pada tahun 2003 ini; jika tidak ada informasi mengenai perubahan lahan panen setelah tahun 1993. Sementara itu, BPS menyajikan data setiap tahun mengenai luas lahan panen tanaman padi.
Satu hal yang menarik dari data BPS tersebut adalah bahwa sejak 1994, Jawa tidak lagi mendominasi luas lahan tanaman padi di Indonesia (kecuali 1999). Tahun 1993 luas lahan di Jawa 5.514 ribu ha, dibandingkan 5.498 ribu ha di luar Jawa. Namun, tahun 1994 luas lahan di Jawa menurun menjadi 5.176 ribu ha, sementara di luar Jawa bertambah menjadi 5.557 ribu ha, dan struktur ini berlangsung hingga 2001.
Hasil perhitungan menunjukkan bahwa saat ini lahan yang di gunakan untuk pertanian kurang dari 20% dari seluruh wilayah Indonesia, dibandingkan 40% dari jumlah populasi di Indonesia yang hidup langsung dari pertanian. Berdasarkan data spesial dari Atlas Tata Ruang Pertanian Nasional yang di susun oleh Putlisbang Tanah dan Agroklimat, sekitar 53% wilayah Indonesia (yang seluruhnya sekitar 192 juta ha) tergolong sesuai untuk budidaya pertanian.
Sempitnya lahan juga berdampak negatif terhadap produktivitas padi, walaupun pemakaian teknologi serta penerapan metode-metode produksi yang tepat sesuai luas lahan dapat mengurangi dampak negatif tersebut. Sebenarnya yang terpenting bukan total luas lahan, melainkan luas lahan rata-rata yang dimiliki setiap petani. Secara teoritis dapat dikatakan bahwa semakin kecil luas lahan per petani semakin rendah tingkat produktivitas karena semakin sulit mencapai produksi yang optimal.

    Nilai tukar petani

1. Pengertian Nilai Tukar Petani

Yang di maksud dengan nilai tukar petani adalah nilai tukar suatu barang dengan barang lain, jadi suatu rasio harga (nominal atau indeks) dari dua barang yang berbeda. Di dalam literatur perdagangan internasional, pertukaran dua barang yang berbeda di pasar dalam negeri dalam nilai mata uang nasional disebut dasar tukar dalam negeri, sedangkan di pasar internasional dalam nilai mata uang internasional (misalnya dolar AS) di sebut dasar tukar internasional atau umum di kenal dengan terms of trade. (T0T. Jadi T0T adalah harga relatif ekspor terhadap harga impor, atau rasio antara indeks harga ekspor terhadap indeks harga M.
Sedangkan, pengertian nilai tukar petani (NTP) sedikit berbeda dengan T0T di atas. NTP hanya menunjukkan perbedaan antara harga output pertanian dengan harga input pertanian, bukan harga barang – barang lain seperti pakaian, sepatu, dan makanan. Atau lebih jelasnya NTP adalah rasio antara indeks harga yang diterima petani, yakni indeks harga jual output-nya terhadap indeks harga yang dibayar petani, yakni indeks harga input-input yang di gunakan untuk bertani, misalnya pupuk. Berdasarkan rasio ini, maka dapat dikatakan semakin tinggi NTP, semakin baik profit yang diterima petani atau semakin baik posisi pendapatan petani.

2. Perkembangan NTP di Indonesia

NTP berbeda menurut wilayah atau provinsi karena adanya perbedaan inflasi (laju pertumbuhan indeks harga konsumen), sistem distribusi pupuk dan input-input pertanian lainnya, serta perbedaan titik ekuilibrium pasar untuk komoditas-komoditas pertanian. Ekuilibrium pasar iu sendiri di pengaruhi oleh kondisi penawaran dan permintaan di wilayah tersebut. Dari sisi penawaran, faktor penentu utama adalah volume atau kapasitas produksi di sektor pertanian (di tambah dengan impor kalau ada), sedangkan dari sisi permintaan terutama adalah jumlah penduduk (serta komposisinya menurut umur dan jenis kelamin) dan tingkat pendapatan riil masyarakat rata-rata perkapita. Secara teoretis, dapat diduga bahwa pusat-pusat produksi beras, misalnya karawang (Jawa Barat), pada saat musim panen pasar beras di wilayah tersebut cenderung mengalami kelebihan stok beras, sehingga harga beras per kilo di pasar lokal cenderung menurun. Sebaliknya, pasar beras di wilayah bukan pusat produksi beras, misalnya kalimantan, cenderung mengalami kekurangan, sehingga harga beras perkilo dipasar setempat naik. Akan tetapi bukan berarti bahwa NTP di Karawang selalu harus lebih rendah daripada di Kalimantan.
Perkembangan NTP tersebut menunjukkan bahwa petani di Jawa Barat dan Jawa tengah mengalami kerugian dari perubahan kedua indeks harga tersebut, sementara petani di Yogyakarta dan Jawa Timur mengalami keuntungan. Hal ini bisa disebabkan oleh kombinasi dari sejumlah faktor, di antaranya yang diperkirakan sangat dominan adalah sistem pendistribusian pupuk yang mungkin lebih baik di DI Yogyakarta dan Jawa Timur, di bandingkan di Jawa Barat dan Jawa Tengah.

3. Penyebab Lemahnya NTP

Sebelumnya, telah dijelaskan bahwa perubahan NTP disebabkan oleh perubahan IT dan/atau IB. Oleh karena itu, pengkaji terhadap penyebab lemahnya NTP dapat dilakukan dengan menganalisis faktor-faktor penyebab rendahnya IT dan faktor-faktor penyebab tingginya IB. Faktor-faktor tersebut dapat berbeda menurut jenis komoditas. Misalnya, dari sisi IT, jelas beras dan jeruk berbeda dalam pola persaingannya. Di Indonesia, petani beras di dalam negeri mengalami persaingan yang sangat ketat, termasuk dengan beras impor. Karena beras merupakan makanan pokok masyarakat Indonesia, yang artinya selalu ada permintaan dalam jumlah yang besar, maka semua petani berusaha untuk menanam padi atau memproduksi beras saja. Hal ini membuat harga beras di pasar domestik cenderung menurun hingga (pada titik ekuilibrium jangka panjang) sama dengan biaya marjinal, atau sama dengn biaya rata-rata perunit output. Ini artinya bahwa IT akan sama dengan IB, dan berarti keuntungan petani nol. Sedangkan, jeruk bukan merupakan suatu barang kebutuhan pokok sepenting beras, sehingga walaupun harganya baik tidak semua petani ingin menanam jeruk. Jadi, jelas disersifikasi output di sektor pertanian sangat menentukan baik tidaknya NTP di Indonesia.
Selain itu, karena beras adalah makanan pokok, maka permintaan beras lebih di pengaruhi oleh jumlah manusia dan pendapatan masyarakat (pembeli), bukan oleh harga. Oleh karena itu, permintaan beras tidak elastis. Akibatnya, jika penawaran beras terlalu besar (pada saat musim panen), sementara permintaan relatif sama atau berkembang dengan laju yang tidak terlalu tinggi, maka harga beras bisa jatuh drastis.
Sedangkan dari sisi IB, faktor utama adalah harga pupuk, yang bagi banyak petani padi terlalu mahal. Hal ini tidak terlalu disebabkan oleh volume produksi atau suplai pupuk (termasuk pupuk impor) di dalam negeri yang terbatas, tetapi oleh adanya distorsi di dalam sisitem pendistribusiannya.

    keterkaitan produksi antara sektor pertanian dengan sektor-sektor ekonomi lainnya

Tidak dapat diingkari bahwa salah satu penyebab krisis ekonomi di Indonesia tahun 1997 adalah karena kesalahan industrialisasi selama Orde Baru yang tidak berbasis pada pertanian. Selama krisis ekonomi juga terbukti bahwa sektor pertanian masih mampu mengalami laju pertumbuhan yang positif, walaupun dalam persentase yang kecil, sedangkan sebagaian besar sektor-sektor ekonomi lainnya termasuk industri manufaktur, mengalami laju pertumbuhan yang negatif di atas satu digit. Banyak pengalaman dari DCs seperti di Eropa dan Jepang yang menunjukkan bahwa mereka memulai industrialisasi setelah atau bersamaan dengan pembangunan di sektor pertanian. Berdasarkan uraian di atas, pertanian tepat dikatakan sebagai sektor andalan bagi perekonomian nasional, yang berarti juga sebagai motor utama penggerak sektor industri. Konsep dasarnya adalah sebagaimana yang dapat dikutip dari Simatupang dan Syafa’at (2000, hal 9) sebagai berikut. Sektor andalan perekonomian adalah sektor yang memiliki ketangguhan dan kemampuan tinggi. Sektor andalan merupakan tulang punggung (backbone) dan mesin penggerak perekonomian (engine of growth), sehingga dapat pula disebut sebagai sektor kunci atau sektor pemimpin (leading sector) perekonomian nasional.

    Bab 3
    Penutup

Kesimpulan

Pengaruh sektor pertanian lebih kecil dibandingkan sektor industri. Hal ini menyebabkan sektor pertanian tidak mampu menimbulkan efek pertumbuhan yang kuat apabila tidak disertai dengan peningkatan sektor industri. Tingkat return on scale sektor pertanian dan sektor industri mempunyai nilai lebih dari 1 (1.249) yang berarti pertumbuhan PDRB atas dasar harga konstan masih dapat di andalkan dari sektor pertanian dan sektor industri.
Sektor industri sebagai sektor unggulan. Dimana pemanfaatan sumber daya alam dapat di optimalkan dengan mengembangkan industri yang berorientasi pada sektor pertanian.

Saran

Saya berpendapat bahawa sektor pertanian mempunyai asas yang kukuh dan potensi yang baik serta prospek yang cerah untuk dimajukan. Kita harus menggunakan segala kepakaran yang ada untuk memajukan bidang ini demi kestabilan ekonomi negara. Rakyat Malaysia pertu berfikiran terbuka dan positif terhadap potensi sektor ini. Kita juga wajar menjadikan kejayaan negara-negara maju khususnya Jepun yang telah berjaya menguasai sektor perindustrian tetapi dalam masa yang sama terus membangunkan bidang pertanian untuk kesejahteraan hidup rakyatnya.

Daftar pustaka
Tambunan, Tulus T.H. (1996), Perekonomian Indonesia, Jakarta: Ghalia Indonesia.

http://digilib.petra.ac.id/viewer.php?page=1&submit.x=0&submit.y=0&qual=high&fname=/jiunkpe/s1/mbis/2010/jiunkpe-ns-s1-2010-31406097-16804-puspita-chapter1.pdf

http://cikgutancl.blogspot.com/2009/02/kepentingan-sektor-pertanian.html

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: